Koranriau.co.id-

KEHEBOHAN akibat kebijakan tarif yang diambil Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih berlanjut. Bahkan di AS sendiri masih menjadi perdebatan, apakah itu berkah atau musibah bagi bangsa Amerika.
Pasar modal AS ternyata merespons secara negatif. Saham-saham blue chips bertumbangan. Kerugian yang dialami perusahaan besar di ‘Negeri Paman Sam’ baik perusahaan teknologi maupun perbankan mencapai triliunan dolar AS.
Kendati demikian, pemerintahan Trump sudah menegaskan tidak akan mengubah kebijakan yang telah ditetapkan. Semua negara yang terkena tarif balasan diminta untuk melakukan mitigasi dan mencari jalan keluar terbaik masing-masing.
Namun, ibarat lautan tenang yang terkena pecahan meteor, gelombang yang diakibatkan akan memakan waktu sampai mencapai keseimbangan baru. Semua negara sudah mengambil posisi yang terburuk dengan menurunkan target pertumbuhan mereka pada tahun ini.
Indonesia yang terkena tarif balasan 32% juga harus bersiap menghadapi kondisi terburuk. Kita tidak bisa menganggap perekonomian Indonesia itu kebal dan tetap berharap bisa tumbuh 8%.
Kita merupakan bagian dari perekonomian global yang saling tergantung. Persoalan di satu negara akan mengimbas kepada negara yang lain. Belum lagi persoalan domestik yang sedang kita hadapi, seperti tutupnya banyak industri, melemahnya daya beli, meningkatnya angka pengangguran, dan turun drastisnya penerimaan pajak.
Tentu pemerintah sudah mempunyai strategi untuk memecahkan persoalan ini. Sambil kita menunggu langkah terobosan yang diambil pemerintah, malam ini kita nikmati dulu kompetisi sepak bola liga Eropa yang sudah mulai bergulir kembali sejak pertengahan pekan ini.
PUKULAN BAGI AMORIM
Salah satu partai yang menarik untuk ditunggu ialah pertemuan di antara dua tetangga, Manchester United dan Manchester City. Pertandingan antartetangga ini selalu penuh dengan emosi karena menjadi pertarungan gengsi untuk menentukan siapa raja di Manchester.
Manchester United boleh dikatakan menjadi underdog
, meski tampil sebagai tuan rumah di Old Trafford, Minggu malam besok. Hanya saja, yang menarik dari ‘Setan Merah’ ialah ‘hilangnya’ para pemain berbakat dari klub ini cuma karena urusan pribadi.
Sejak ditangani Erik ten Hag dan Ruben Amorim sekarang ini, Manchester United banyak menyia-nyiakan pemain bintang yang mereka miliki. Ironisnya, pemain yang kemudian tersingkir itu justru menjadi bintang di klub barunya.
Pemain terakhir yang bersinar di klub barunya ialah Marcus Rashford. Pemain berbakat itu memiliki potensi diri yang luar biasa besar. Namun, yang namanya pemain bintang tentu membutuhkan penanganan yang khusus.
Mirip seperti Eric ‘King’ Cantona dan juga Paul Gascoigne, Rashford tidak mudah untuk diatur. Bahkan Cantona dijuluki ‘enfant terrible‘ karena bandel dan kontroversial. Paling luar biasa ketika ia marah kepada pendukung Crystal Palace dan melepaskan tendangan kungfu. Atas kebandelan itu, bintang asal Prancis tersebut dihukum delapan bulan.
Meski demikian, pelatih Sir Alex Ferguson sabar untuk mendampingi Cantona. Ia tahu bahwa pemainnya bandel, tetapi memiliki bakat sepak bola yang luar biasa. Kesabaran Ferguson untuk membimbing membuat Cantona kemudian bisa mengendalikan emosi dan bahkan menjadi orang yang membawa ‘Setan Merah’ memasuki masa kejayaan.
Hal yang sama terjadi dengan Gascoigne. Ia dikenal sebagai salah satu bintang berbakat Inggris, tetapi sangat temperamental dan sering melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri. Salah satunya ketika tampil di final Piala FA 1991 saat melakukan tackling berbahaya dan akhirnya membuat dirinya cedera. Akibatnya, ketika pindah dari Tottenham Hotspur ke Lazio, Gascoigne harus beristirahat beberapa lama dan akhirnya tidak pernah menemukan kembali permainan terbaiknya.
Padahal di ajang Piala Dunia 1990, Gascoigne menjadi anak kesayangan pelatih Bobby Robson. Di semifinal melawan Jerman (Barat), ia juga melakukan pelanggaran yang tidak perlu sehingga mendapat kartu kuning kedua dan harus absen saat Inggris memainkan pertandingan perebutan tempat ketiga melawan tuan rumah Italia.
Di mata pendukung Three Lions, Gascoigne dianggap sebagai pahlawan karena mampu membawa Inggris melaju sampai semifinal. Pendukung Inggris makin jatuh cinta ketika ia menangis karena mendapatkan kartu kuning saat melawan Jerman sehingga hilang harapan tampil di pertandingan puncak Piala Dunia 1990.
KURANG SABAR
Pelatih muda Amorim tidak memiliki kesabaran seperti halnya Alex Ferguson ataupun Bobby Robson. Amorim menghukum Rashford yang dianggap tidak menunjukkan sikap profesional di luar lapangan dengan mendudukkannya di bangku cadangan.
Rashford yang keras juga tidak mau peduli terhadap Amorim. Apalagi pelatih baru Manchester United itu pun tidak pernah berupaya melakukan komunikasi langsung dengan dirinya. Ia pun memilih untuk dipinjamkan ke Aston Villa pada jendela transfer Januari lalu.
Karena bakatnya yang luar biasa, Rashford yakin akan bisa bersinar di Birmingham. Meski banyak pihak menyarankan dirinya tetap bersama ‘Setan Merah’ yang membesarkannya dan merupakan klub impian semua pemain sepak bola, Rashford yang sudah patah arang bergeming dan memutuskan pindah. Apalagi pelatih asal Spanyol Unai Emery sangat perhatian dan memberikan kepercayaan kepada dirinya.
Hasilnya dengan cepat Rashford menemukan dirinya kembali. Dalam dua pertandingan terakhir, ia bahkan sudah menyumbangkan gol kepada Villa. Pertama dua gol di perempat final Piala FA yang ia ceploskan ke gawang Preston North End dan kedua saat membawa Villa mengempaskan Brighton & Hove Albion 3-0 pada Kamis malam.
Tidak hanya itu, Rashford juga mendapatkan kepercayaan dari pelatih Thomas Tuchel untuk menggunakan kostum Three Lions.
Sabtu malam ini, Rashford akan menjadi pilihan Emery untuk menjamu Nottingham Forest di Villa Park. Yang menarik, pertandingan ini akan mempertemukan dua pemain yang dibuang Manchester United tapi bersinar di klub baru mereka. Rashford akan berhadapan dengan bekas rekannya, Anthony Elanga, yang kini menjadi bintang Forest. Elanga menjadi penentu kemenangan Forest saat menaklukkan ‘Setan Merah’ 1-0 pada Rabu lalu.
Amorim kini terjebak dalam keterbatasan pemain. Menghadapi Manchester City, ia hanya bisa menurunkan pemain yang ada karena belum kunjung pulihnya Amad Diallo dari cedera. Kapten kesebelasan Bruno Fernandes terpaksa bermain sebagai penyerang sayap bersama Alejandro Garnacho. Posisi ujung tombak tinggal bergantian diisi Rasmus Hajlund atau Joshua Zirkzee, meski keduanya tidak kunjung memuaskan.
Tidak usah heran apabila the Citizens lebih diunggulkan untuk memenangi pertandingan. Pelatih Josep Guardiola berharap tim asuhannya bisa masuk empat besar sehingga bisa tetap tampil di Liga Champions musim depan.
Peluang Manchester City untuk mempertahankan gelar juara sudah tertutup. Satu-satunya harapan untuk bisa mengangkat trofi tinggal di ajang Piala FA. Mereka akan tampil di semifinal melawan Forest pada 26 April mendatang.
Artikel ini merupakan Rangkuman Ulang Dari Berita : https://mediaindonesia.com/sepak-bola/757753/rashford-masih-ada-amorim