Cerita Singkong dan Busana Muslim RI Mendunia Berkat Digitalisasi
Ekonomi

Cerita Singkong dan Busana Muslim RI Mendunia Berkat Digitalisasi

Koranriau.co.id –

Jakarta, CNN Indonesia

Hasan tak pernah menyangka usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ia mulai di Banjar, Jawa Barat, bisa menembus pasar global.

Maklum, saat baru mengawalinya pada 2020 lalu, bisnis busana muslim yang ia beri nama ‘Kawan Muslim’ itu tak terlalu laku di masyarakat.

Padahal, ia sudah berusaha menjajakan produknya di media sosial.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Dulu lakunya 10 sampai 20 pieces per bulannya,” katanya kepada CNNIndonesia.com, awal Maret lalu.

Raka menceritakan penjualan bisnis yang ia geluti bersama istrinya itu sering terkendala karena banyak konsumen yang menanyakan akun marketplace Kawan Muslim.



Karena belum tersedia di marketplace, tak sedikit konsumen yang batal membeli produk Kawan Muslim.

Karena masalah itulah, tanpa pikir panjang, ia pun langsung bergabung ke Shopee di akhir 2020 demi merambah pasar yang lebih luas. Tujuan itu pun tercapai.

Banyak konsumen yang akhirnya melirik Kawan Muslim usai bergabung dengan Shopee. Raka menceritakan memang banyak konsumen yang lebih percaya pada kualitas produknya ketika bergabung di Shopee dibandingkan hanya menggunakan media sosial saja.

“Memang Shopee jadinya meningkatkan traffic penjualan karena kan menambah channel distribusi. Karena memang orang sekarang nanyanya marketplace terus, ada Shopee atau enggak gitu,” katanya.

Raka menceritakan setelah bergabung dengan Shopee, volume penjualannya meningkat. Jika biasanya ia hanya menjual 10 hingga 20 pieces busana, sekarang ia mampu menjual 60 hingga 80 pieces tiap bulan.

Bahkan, saat Ramadhan sekarang penjualannya meningkat hingga ratusan pieces per bulan.

Pasar Kawan Muslim pun semakin meningkat dengan mengekspor ke luar negeri berkat Shopee. Saat ini, Kawan Muslim telah memasarkan produknya ke Malaysia.

Raka menceritakan bisnisnya memang baru mulai ekspor beberapa bulan terakhir sehingga baru hanya menyasar dan volume ekspornya belum terlalu banyak.

“Sebulan biasanya 10 pieces yang diekspor, mungkin karena baru jadi masih segitu,” katanya.

Berkat digitalisasi, omset Kawan Muslim pun perlahan meningkat. Meski enggan menyebutkan nominal uang didapat, Raka mengatakan omsetnya naik 30 persen setelah bergabung dengan Shopee.

Tak hanya itu, ia juga bisa menambah jumlah pekerja. Dari awalnya hanya berdua dengan sang istri, kini Kawan Muslim memiliki 8 pekerja.

Mereka 5 penjahit dan 3 orang bertugas mengurus packaging dan admin marketplace.

“Yang jelas kita jadi nambah orang. Sekarang kan ramai (penjualan), saya ambil (pekerja) dari tetangga-tetangga, saya tanyain mau kerja atau enggak,” katanya.

Segendang sepenarian dengan Hasan, digitalisasi juga membawa berkah bagi Raka dan UMKM miliknya, Ladang Lima.

Berawal dari kegelisahannya melihat singkong Indonesia hanya diolah sebatas makanan tradisional yang direbus atau digoreng, Raka mendirikan Ladang Lima pada 2013.

UMKM tersebut awalnya hanya memproduksi tepung mocaf dengan mengambil singkong dari petani-petani Pasuruan, Jawa Timur.

“Singkong di Indonesia itu kalau enggak jadi keripik singkong ya tepung tapioka. Kita melihat potensi Singkong ini kan masih belum punya added value ya, sehingga kita bikin produk tepung mocaf yang bisa diaplikasikan ke bahan-bahan makanan. Sehingga kita bisa menggunakan sourcing dari pangan lokal, bukan dari pangan impor,” katanya.

Awalnya, Raka memasarkan produk usahanya dengan menitipkannya di toko-toko terdekat. Namun, perjalanan Ladang Lima tidak berjalan mulus.

Pada 2014, UMKM tersebut sempat hampir gulung tikar karena tak laku.

“Karena memang susah ya mengedukasi marketnya. Pada saat itu kita sempat mau bangkrut juga,” kata Raka.

Namun, Raka tak mau menyerah. Sisa tepung-tepung ia miliki saat itu digunakan untuk membuat berbagai produk turunan, mulai dari kue kering, pasta, hingga mie instan yang bebas gluten. Produk tersebut berhasil diterima masyarakat.

Tak hanya berhenti di situ, Raka terus mencari cara untuk memasarkan produknya lebih luas. Ia kemudian melakukan digitalisasi dengan bergabung ke marketplace Shopee sejak tahun 2000.

Dari situ, pintu rezeki semakin terbuka lebar. Ladang Lima berhasil merambah pasar yang lebih luas.

“Pasti terbantu dengan marketplace, distribusinya jadi lebih nyaman bagi customer untuk order produk kita,” katanya.

Perlahan Ladang Lima ‘naik kelas’. Kini, Ladang Lima telah bermitra dengan belasan petani singkong di Pasuruan dengan total lahan 30 hektar.

Ladang Lima juga memiliki tempat produksi di daerah Pasuruan yang terletak dekat dengan sentra petani singkong, di kaki Gunung Bromo, sehingga bisa langsung menggunakan singkong segar.

Ladang Lima juga telah berhasil merambah pasar global dengan mengekspor produknya ke China, Australia, dan Korea Selatan.



Artikel ini merupakan Rangkuman Ulang Dari Berita : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250327090402-92-1213561/cerita-singkong-dan-busana-muslim-ri-mendunia-berkat-digitalisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *