Koranriau.co.id –
Jakarta, CNN Indonesia —
Presiden AS Donald Trump mengumumkan daftar tarif baru yang diterapkan kepada ratusan negara, pada Rabu (2/4) waktu setempat. Tarif timbal balik atau resiprokal itu dirilis dengan besaran beragam kepada masing-masing negara.
Vietnam menjadi salah satu negara dengan tarif resiprokal terbesar karena mencapai 46 persen. Jumlah itu lebih besar dibanding banyak negara, termasuk Indonesia dengan 32 persen.
Apa penyebab Vietnam dihantam tarif Trump yang begitu tinggi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kasus Vietnam, pemerintahan Donald Trump mematok tarif sebesar itu dengan klaim ekspor AS ke pasar Vietnam dikenakan tarif 90 persen. Tarif itu turut disebabkan manipulasi mata uang sekaligus hambatan perdagangan.
Kemudian, besaran 46 persen yang ditetapkan oleh Trump kepada Vietnam diperkirakan mengacu pada neraca perdagangan antara AS dan Vietnam.
Menurut data yang dirilis Reuters pada Kamis (4/4), Vietnam memiliki surplus perdagangan terhadap AS sebesar US$123 miliar pada 2024. Angka surplus itu lebih tinggi dibanding sebagian negara, termasuk Indonesia yang nilai surplusnya ditaksir sebesar US$18 miliar.
Surplus itu terjadi karena tren ekspor Vietnam ke AS yang terus melesat sejak 2018 saat perang dagang AS-China memanas. Vietnam semakin diminati oleh perusahaan yang ingin melakukan diversifikasi sumber produksi dan mengurangi risiko terkait perang dagang AS-China.
Impor yang dilakukan AS dari Vietnam itu bahkan mencapai US$136,6 miliar pada 2024, naik sekitar 19 persen dari 2023.
Alasan lain yang diperkirakan memicu tarif timbal balik Vietnam begitu tinggi datang dari paparan impor negara tersebut terhadap produk-produk Amerika Serikat.
Vietnam merupakan negara dengan total paparan impor AS tertinggi di Asia. Pada 2024, total paparan impor AS di Vietnam mencapai 12 persen dari PDB negara tersebut.
Sementara itu, situasi yang dialami Vietnam kontras dengan Singapura karena tarif resiprokal negara itu hanya sebesar 10 persen. Tarif ini tercermin dari neraca perdagangan antara AS dan Singapura yang relatif lebih kecil.
Tarif itu terbilang kecil karena produk farmasi yang diekspor Singapura ke AS dibebaskan dari tarif baru tersebut. Hal itu membuat Singapura terhindar dari dampak lonjakan tarif yang signifikan.
Gedung Putih mengumumkan tarif untuk semua impor berlaku mulai 5 April. Trump juga mengonfirmasi bahwa mulai tengah malam di Washington, tarif 25 persen akan dikenakan pada semua mobil asing yang diimpor ke AS.
Trump juga mengumumkan keadaan darurat ekonomi nasional untuk meluncurkan tarif, yang diharapkan menghasilkan pendapatan tahunan ratusan miliar.
Ia telah berjanji bahwa pekerjaan pabrik akan kembali ke Amerika Serikat sebagai akibat dari pajak tersebut.
Namun, kebijakannya berisiko menyebabkan perlambatan ekonomi mendadak karena konsumen dan bisnis dapat menghadapi kenaikan harga yang tajam untuk mobil, pakaian, dan barang-barang lainnya.
(frl/isn)
Artikel ini merupakan Rangkuman Ulang Dari Berita : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250404113339-92-1215748/alasan-vietnam-dihantam-tarif-trump-lebih-tinggi-dari-ri